masukkan script iklan disini
MITRAKEJAKSAAN | Medan - Pernyataan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang menyebut adanya alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) justru dinilai membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai besarnya pengaruh alumni HMI dalam percaturan kepemimpinan nasional.
Pengamat Intelijen Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos, menilai pernyataan tersebut secara tidak langsung telah membesarkan gaung alumni HMI di tengah dinamika NU, terutama dalam konteks politik, sosial, dan kepemimpinan nasional.
Menurut Mas'ud, dalam hukum sosial-politik berlaku sebuah prinsip sederhana: kelompok yang memiliki pengaruh besar cenderung memiliki kemampuan untuk mendominasi ruang strategis. Karena itu, ketika Cak Imin menempatkan alumni HMI sebagai bagian penting dalam kepemimpinan NU, pernyataan tersebut justru memperlihatkan bahwa kader dan alumni HMI memiliki kapasitas untuk memainkan peran signifikan dalam arena kepemimpinan nasional.
"Kalau Cak Imin menyebut alumni HMI memimpin NU, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mungkin organisasi yang lahir jauh lebih muda seperti HMI justru terlihat memiliki pengaruh dalam ruang kepemimpinan organisasi yang secara historis jauh lebih tua seperti NU?" ujar Mas'ud. (1/9).
Secara historis, NU telah berdiri pada 1926, sementara HMI lahir pada 1947. Dengan rentang sejarah tersebut, menurut Mas'ud, secara logika sosial justru lebih mudah dibayangkan apabila kader-kader NU yang memiliki pengaruh kuat di berbagai ruang organisasi kemahasiswaan, termasuk HMI.
Namun, realitas sosial-politik terkadang bergerak dengan logika yang berbeda.
"Dalam bayang-bayang Cak Imin, posisi alumni HMI justru ditempatkan pada titik yang sangat strategis. Ini merupakan sebuah logika yang menarik karena seolah membalik kebiasaan dalam konstruksi sosial organisasi," katanya.
Mas'ud menilai, terlepas dari apakah pernyataan tersebut dimaksudkan sebagai kritik, sindiran, atau sekadar pengamatan terhadap dinamika internal NU, penyebutan alumni HMI justru memberikan panggung lebih besar terhadap eksistensi mereka.
Bahkan, menurutnya, logika tersebut dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi alumni HMI karena semakin menegaskan persepsi publik bahwa mereka mempunyai kapasitas dan jaringan yang kuat dalam memengaruhi dinamika politik, sosial, dan budaya di Indonesia.
"Pada akhirnya, siapa yang disebut memiliki pengaruh akan semakin diperhatikan. Ketika alumni HMI disebut berada di pusat kepemimpinan NU, publik justru semakin melihat bahwa alumni HMI memiliki posisi penting dalam dinamika kepemimpinan nasional," tegas Mas'ud.
Dengan demikian, Mas'ud melihat pernyataan Cak Imin bukan semata-mata soal siapa yang memimpin NU, melainkan juga menjadi cermin bagaimana jaringan kader dan alumni HMI dipersepsikan dalam peta kekuasaan dan kepemimpinan Indonesia.
(Redaksi)






