• Jelajahi

    Copyright © MITRA KEJAKSAAN
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Tuan Guru Batak: Jangan Sampai Masjid Ramai Terbangun, Tapi Umat Masih Kelaparan

    MITRA PENDIDIKAN
    Minggu, 30 Agustus 2026, Agustus 30, 2026 WIB Last Updated 2026-08-31T06:35:11Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    MITRAKEJAKSAAN | Siantar - Masjid tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat untuk menunaikan ibadah ritual dan mengejar keutamaan salat berjemaah. Masjid juga harus kembali hadir sebagai pusat kepedulian, tempat umat memikirkan, merasakan, dan ikut menyelesaikan persoalan kehidupan sesama.

    Pesan tersebut disampaikan Tuan Guru Batak Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, M.A., dalam tausiah pada pelantikan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Siantar. Senin, (31/8).

    Menurutnya, sudah saatnya fungsi masjid direvitalisasi agar tidak berhenti pada aktivitas spiritual semata, tetapi juga mampu menjawab persoalan sosial yang dihadapi jemaah dan masyarakat di sekitarnya.

    Sebab, menurutnya, ada sebuah ironi ketika seseorang begitu bersemangat mengejar kesalehan pribadi melalui salat berjemaah, tetapi pada saat yang sama justru tidak peduli ketika ada tetangga atau sesama jemaah yang sedang kelaparan, kesusahan, maupun menghadapi penderitaan.

    “Di antara ego spiritual adalah mengejar salat berjemaah, tetapi cuek dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama, terhadap maslahat umat,” menjadi pesan penting yang disampaikan dalam tausiah tersebut.

    Masjid, lanjutnya, harus mampu menjadi ruang yang menghadirkan keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Dari tempat manusia bersujud kepada Allah, harus tumbuh kepedulian untuk mengangkat harkat dan memenuhi kebutuhan manusia.

    Dengan demikian, revitalisasi masjid bukan sekadar memperindah bangunan atau memperbanyak kegiatan keagamaan, tetapi menghidupkan kembali ruh masjid sebagai pusat peradaban, persaudaraan, kepedulian, dan pelayanan umat.

    Masjid idealnya bukan hanya menjadi tempat orang datang untuk mengisi kebutuhan rohaninya, tetapi juga menjadi tempat orang yang lapar mendapatkan makanan, yang lemah mendapatkan pertolongan, yang kesulitan mendapatkan solusi, dan yang terpinggirkan kembali merasakan bahwa dirinya tidak sendirian.

    Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi pengurus masjid dan seluruh umat Islam: jangan sampai masjid ramai oleh saf-saf salat, tetapi sunyi dari kepedulian terhadap penderitaan manusia. (Red)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini